SUMBARKITA – Sejak Senin (29/08/2022) serangkaian gempabumi mengguncang Kepulauan Mentawai dan sekitarnya, dan sejauh ini 2.326 Penduduk Mentawai dilaporkan telah mengungsi.
Tidak hanya gempa, Kabupaten terluar di Pulau Sumatra ini dan kawasan pesisir Sumatra Barat juga dibayang-bayangi oleh ancaman gelombang tsunami.
Karena itu keberadaan ruas jalan sebagai sarana evakuasi dan distribusi logistik atau bantuan bagi pengungsi mesti mendapatkan perhatian serius.
Baca Juga : Melihat Realisasi Pemerataan Pembangunan di Sumbar, Kemiskinan di Mentawai capai 14 persen
Kepulauan Mentawai, melihat data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun 2022 jumlah ruas jalan di Kabupaten ini masih jauh dari kata cukup.
Pasalnya lebih dari setengah jalan di Mentawai, merupakan jalan yang terbuat dari tanah.
Dari total 1.230,69 kilometer jalan di Mentawai, sepanjang 668,75 kilometer masih dari tanah.
Sedangkan jalan dengan bahan aspal atau beton hanya mencapai 158,17 kilometer, selebihnya material jalan adalah kerikil.
Jika dihitung dalam persentase, maka 54,33 persen jalan di Mentawai merupakan jalan tanah.
Baca Juga : Mahyeldi Janji Beri Perlakuan Sama, Ketimpangan Pendidikan di Mentawai Masih Lebar
Sementara itu, dilihat dari indikator kondisi jalan, keadaannya tidak jauh berbeda. Hanya 4.5 persen dari jalan ini yang masuk kategori baik.
Dengan kata lain hanya ada 56,09 kilometer jalan dalam kategori baik, sedangkan sepanjang 796,87 kilometer ada di kategori rusak dan rusak berat, selebihnya ada dikategori sedang.
Jalan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, dalam data BPS terbagi dari 89.49 kilometer jalan Negara dan 11 kilometer jalan Provinsi, selebihnya sepanjang 1.130,2 kilometer merupakan jalan kabupaten.
Dari data BPS juga, dari tahun 2019, 2020, hingga 2021 tidak ada sedikpun penambahan panjang jalan. (*)
Editor : Putra Erditama











