Sumbarkita — Hujan ekstrem yang mengguyur Tanah Datar beberapa hari terakhir memicu banjir, longsor, dan galodo (banjir bandang) di hampir semua kecamatan. Dampaknya sangat luas: 27 nagari terdampak, ribuan warga harus meninggalkan rumah, dan puluhan infrastruktur rusak parah.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Pelaksana BPBD Tanah Datar, Ermon Revlin. Ia menyebut kondisi itu sebagai salah satu bencana terburuk sepanjang 2025.
“Skala kerusakannya masif dan tersebar di banyak titik. Ini situasi darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi,” ujar Ermon pada Jumat (28/11).
BPBD Tanah Datar mencatat 3 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, dan 4 warga luka-luka akibat diterjang banjir dan longsor. Sementara itu, 3.405 jiwa mengungsi setelah rumah mereka terendam, terancam longsor, atau akses menuju permukiman terputus.
“Prioritas utama kami adalah keselamatan warga. Pencarian korban hilang terus dilakukan, dan evakuasi di daerah rawan masih berlangsung,” ucap Ermon.
Ermon menginformasikan bahwa kerusakan terbesar tercatat di Kecamatan Batipuh Selatan, dengan 2.682 jiwa terdampak dan seluruhnya mengungsi. Ia menyebut bahwa sedikitnya 2 rumah rusak berat, 28 raj rusak sedang, dan 16 rumah rusak ringan.
“Lahan pertanian seluas 6,3 hektare juga terdampak,” ucapnya.
Sementara itu, kata Ermon, di Kecamatan Batipuh tercatat lima nagari terdampak dengan 563 jiwa terpapar, 562 orang di antaranya mengungsi. Ia mengatakan bahwa kerusakan meliputi rumah warga, irigasi, jembatan, dan lahan pertanian mencapai 403 hektare.












