Sumbarkita – Banjir berhari-hari yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali memicu perdebatan nasional mengenai akar persoalan bencana di hulu. Selain curah hujan ekstrem, warganet menilai deforestasi menjadi faktor utama yang memperparah banjir hingga membuat ribuan warga terisolasi.
Bencana yang menyebabkan akses jalan terputus, rumah-rumah rusak, serta material kayu hanyut ke permukiman memperlihatkan kondisi hutan yang kian gundul di sepanjang Bukit Barisan. Hilangnya vegetasi membuat air hujan tidak lagi terserap dan langsung mengalir deras membawa tanah dan kayu gelondongan.
Di media sosial, topik deforestasi kembali menjadi sorotan. Banyak warganet meluapkan kekhawatiran sekaligus mengajak masyarakat menjaga hutan dengan cara yang tidak biasa: patungan membeli hutan untuk dikonservasi.
“Sudah ada open donasi buat patungan beli hutan belum? Patungan sedikit-sedikit bisalah saya,” tulis seorang warganet di Thread.
“Mungkin 10–15 tahun lagi generasi berikutnya tidak bisa melihat hutan dan satwa asli Indonesia karena sudah punah. Bisa tidak kita patungan beli hutan untuk konservasi?” tulis yang lain.
Ada pula warganet yang menilai aksi kolektif masyarakat bisa berdampak besar.
“Ngeliat donasi untuk Sumatra di Kitabisa tembus 8 miliar, rasanya pergerakan rakyat ini tidak ada yang tidak mungkin kalau kita jalan bareng. Optimis kita bisa patungan bebaskan lahan untuk konservasi.”
Beberapa unggahan lain juga menyampaikan frustrasi serupa.
“Aku punya cita-cita baru buat hutan. Ayok patungan beli tanah dan kita tanami pohon.”














