Sumbarkita – Pencarian korban banjir bandang dan longsor besar yang menghantam kawasan Jembatan Kembar di jalan Padang—Bukittinggi dan menyeret material hingga Kayu Tanam, Padang Pariaman, serta aliran sungai Batang Anai terus berlangsung hingga Jumat (28/11/2025).
Informasi yang dihimpun tim gabungan di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa jumlah warga yang hilang belum dapat dipastikan. Namun, laporan yang masuk dari pemerintah nagari menunjukkan angka yang jauh lebih besar daripada perkiraan awal.
Berdasarkan pendataan sementara, lebih dari 50 orang diperkirakan hilang, bahkan beberapa perangkat nagari menyebut jumlahnya bisa mencapai sekitar 60 orang. Variasi data itu dipengaruhi oleh akses komunikasi yang terputus serta sejumlah warga yang belum dapat dipastikan keberadaannya.
Di lokasi Jembatan Kembar pada Kamis (27/11) material longsor terlihat jatuh dengan kekuatan massif. Material itu menyeret pohon, batu besar, dan lumpur dalam volume luar biasa. Aliran material itu meluncur deras mengikuti jalur yang menurun menuju Kayu Tanam hingga akhirnya sebagian besar terperangkap dan mengendap di aliran sungai Batang Anai.
“Hingga sore ini, 19 korban telah ditemukan oleh tim gabungan dari TNI-Polri, Basarnas, BPBD, relawan, dan masyarakat,” ucap Kepala Polres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, kepada wartawan di posko pencarian.
Faisol mengatakan bahwa sebagian besar korban ditemukan di tumpukan material yang mengeras di sepanjang aliran sungai, terutama di bagian yang menunjukkan tanda-tanda sumbatan arus Kayu Tanam.
“Tim pencari menggunakan pendekatan investigatif untuk menelusuri jalur aliran galodo, mengikuti arah tumbangnya kayu, penyebaran serpihan material, hingga pola endapan lumpur yang dianggap janggal,” ucap Faisol.
Faisol memetakan setiap anomali aliran air atau gundukan material langsung sebagai titik prioritas untuk disisir.
“Medan pencarian masih menjadi hambatan besar. Lumpur yang setinggi, tumpukan kayu, serta aliran air membuat tim harus bekerja dengan kewaspadaan penuh. Ancaman longsor susulan dan pergerakan material juga membuat operasi ini memiliki risiko tinggi,” katanya.
Di posko Kayu Tanam dan posko identifikasi RS Bhayangkara Padang, kata Faisol, laporan warga terus datang. Ia menyebut bahwa setiap informasi tentang anggota keluarga yang belum ditemukan langsung dicocokkan dengan temuan tim di lapangan dan dipetakan ulang ke jalur aliran galodo.
Hingga berita ini diturunkan, proses pemetaan dan penyisiran masih berlangsung intensif. Tim gabungan memperluas area pencarian hingga ke hilir Batang Anai, mengingat sebagian korban berpotensi terbawa lebih jauh oleh derasnya aliran material.
“Operasi ini diperkirakan masih akan terus berlanjut mengingat banyaknya laporan kehilangan yang belum terverifikasi secara pasti,” ujar Faisol.
Tim lapangan menilai kemungkinan korban tambahan masih cukup besar karena skala longsor dan kekuatan aliran yang menghantam pemukiman serta jalur lintasan di bawahnya.















