Sumbarkita — Ketua Program Studi Sarjana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Indonesia, Yeni Herlina, menyebutkan bahwa sekitar 90 persen alumni Program Studi K3 terserap di berbagai sektor industri, layanan kesehatan, dan instansi pemerintah. Data ini menunjukkan peluang karier yang luas bagi lulusan program tersebut.
“Data terakhir menunjukkan bahwa sekitar 90 persen alumni Program Studi K3 terserap di dunia kerja. Lulusan kami dapat bekerja sebagai safety officer, safety supervisor, HSE officer, hingga health and safety manager,” ujarnya.
Ia menambahkan, alumni tersebar di berbagai instansi, mulai dari Dinas Ketenagakerjaan kabupaten dan provinsi, perusahaan besar seperti Semen Padang, perusahaan sawit, rumah sakit, hingga dunia pendidikan.
“Bahkan ada alumni kami yang saat ini menjadi dosen dan melanjutkan pendidikan hingga S3,” tuturnya.
Perjalanan Program Studi K3 STIKES Indonesia dimulai sejak 2000. Pada fase awal, program ini berbentuk Diploma III (D3) Kesehatan dan Keselamatan Kerja, yang terakhir menerima mahasiswa baru pada 2004. Sejak 2005, fokus pengembangan diarahkan ke jenjang Sarjana (S1) K3.
“Sejak menerima mahasiswa S1, pengembangan keilmuan dan pembelajaran kami arahkan sepenuhnya ke jenjang sarjana,” jelas Yeni.
Proses pembelajaran S1 dilaksanakan secara tatap muka dengan total 146 SKS selama delapan semester. Mahasiswa juga mengikuti Pembelajaran Berbasis Lapangan (PBL) di rumah sakit dan puskesmas, serta magang industri di perusahaan mitra pada semester 5 dan 6. Fasilitas pendukung termasuk laboratorium K3, laboratorium komputer, ruang kelas ber-AC, dan aula berkapasitas lebih dari 500 orang.
“Program Studi K3 STIKES Indonesia telah meraih akreditasi Baik Sekali (2022–2027) dan menjalin kerja sama dengan berbagai mitra industri serta instansi pemerintah,” tambahnya.














